Blog Jambi Informasi jambi by a - One

Selayang Pandang

My photo
Sikapur Sirih ~ Selamat datang di Blog Informasi Jambi dari Yudi a-One. Sebelumnya Saya mau ngucapin banyak-banyak terima kasih pada kalian semua yang sudah ngunjungin blog saya ini. Blog ini saya buat dengan upaya untuk memuat segala sesuatu tentang Informasi Provinsi Jambi, yang mungkin kalian ada yang belum tahu, terutama buat sahabat dari luar provinsi jambi, dalam bentuk tulisan. Tak lupa pula rasa syukur saya panjatkan kepada Allah SWT karena saya telah diridhoi kemampuan, kesehatan dan kelebihan oleh-Nya untuk dapat terus menjalankan hidup ini, mengembangkan ilmu yang saya punya, dan juga kesempatan untuk dapat membagikan informasi yang ada di jambi dan sedikit catatan atau pun coretan sampah tentang diriku dalam blog kecil nan sederhana ini. Semoga semua hal yang sudah saya muat di blog Informasi Jambi ini, bisa bermanfaat bagi kita semua.

Blog

12/27/10

Dompet

Dompet - Nah ini ada cerita ringan yang enak di baca ini sengaja saya kutip dari kompas.com.

Yang jelas aku bukan pencuri, bukan maling, bukan pencopet walau aku suka dompet. Memang aku memilikinya dengan cara mencuri. Tapi aku tidak pantas disebut semata sebagai pencuri seperti pencopet yang kalian tahu. Aku hanya suka mengoleksi dompet. Bagiku dompet adalah sesuatu yang punya banyak cerita menarik.

milik orang-orang dari tempat-tempat yang pernah aku singgahi. Kalau tidak salah, awal ketertarikanku pada dompet terjadi ketika aku secara tak sengaja melihat isi dompet Papaku yang tergolek di atas meja. Ketika dompet itu kubuka aku melihat segepok uang kertas yang tak membuatku tertarik untuk mengambilnya. Aku hanya tertarik pada isinya yang lain seperti kumpulan kartu-kartu nama, KTP, SIM, foto-foto, dan lain-lain yang menggambarkan aroma pemiliknya.

Yang kuingat dompet Papaku, dompet pertama yang membuat aku tertarik adalah isinya yang beragam. Kala itu kutemukan nomor telepon. Entah siapa, aku tidak tahu. Di situ tertulis ‘Rita 7213955’. Lalu ada lagi ‘Santi 5607485’. Ada foto Mamaku. Ada foto Papaku. Ada foto perempuan lain. Mungkin Santi. Atau mungkin foto Rita, perempuan yang nomor teleponnya tertera di secarik kertas dalam dompet Papaku. Tapi tidak ada fotoku. Ada lembaran rupiah, lembaran dolar, kartu-kartu nama. Semuanya kartu nama bermacam-macam. Papaku memang jarang pulang. Dan kartu-kartu nama juga nomor telepon itu membuatku menduga-duga barangkali inilah yang membuat Papaku jarang pulang ke rumah. “Lagi ada rapat, Ma,” “Besok sore, pulangnya, Ma,”

Yeah, itulah kata-kata yang sering kudengar kalau kucuri dengar Mamaku menerima telepon dari Papa. Semenjak itu aku juga mulai tertarik pada dompet Mamaku. Dompet Mamaku juga sama. Ada KTP, ada foto Papa, ada foto Mama juga dan foto aku. Ada catatan belanja, segepok uang dan beberapa keping uang logam. Persis seperti punya Papa.

Itu saja. Tidak ada yang menarik. Ya, tidak menarik. Tapi pernah juga ada foto seorang lelaki di dompet Mamaku. Entah foto siapa. Di balik foto itu ada nomor telepon 55308495. Mungkin foto lelaki itu. Semenjak foto itu kutemukan di dompet Mama aku juga jarang melihat Mama di rumah. Aku di rumah saja dengan pembantu. Katanya, Mama sekarang bekerja juga. O, pantas. Tapi semakin jarang di rumah, isi dompet itu membuatku bertanya-tanya apakah Mamaku melakukan hal yang sama dengan Papa?

Pernah pada suatu hari ketika aku pulang dari rumah, ada seorang lelaki di ruang tamu. Namanya Oom Hari, teman Mamaku. Badannya tinggi tegap kulitnya putih bersih. Penampilannya parlente. Dia tersenyum ramah dan pamit kepada Mamaku. Mamaku yang mengenalkanku padanya. Katanya teman sekolah Mama dulu.

Oom Hari sering main ke rumah. Lama-lama aku terkesan. Oom Hari orangnya ramah, baik dan suka melucu. Mamaku sering terkikik-kikik kalau sedang bincang-bincang di ruang tamu. Oom Hari sering membawakan kami hadiah. Ada mobil-mobilan, pistol-pistolan sampai keranjang parsel. Aku sering dibelikannya mainan. Aku senang dengan Oom Hari. Selain dia sering membelikan aku mainan dia juga suka mengajakku bermain.

Herannya, kalau Papa pulang, Mama kelihatannya kurang senang. Ia malah berpesan jangan cerita soal Oom Hari kepada Papa. Aku hanya manggut-manggut saja tak banyak tanya. Yang penting aku sering dibelikan mainan, makanan dan juga uang jajan. Di kamar tidurku yang mungil aku melamun. Melamunkan Oom Hari. “Ma, Oom hari baik, ya?” “Ya,” “Bagus senang dengan Oom Hari?” “Abis Oom Hari baik, sih,” “O, ya?” “Tidak seperti Papa,” “Papa jarang pulang dan nggak pernah mengajakku bermain,” “Tapi kenapa Mama berpesan supaya Oom Hari nggak diceritain ke Papa?” “Pokoknya kamu jangan cerita ya, Bagus,” “Kalo Papa datang, anggap saja Oom Hari nggak pernah datang,” “Kenapa?” “Sudahlah, Oom Hari tadi siang kasih kamu apa?” “Mobil-mobilan,” “Wah, wah, kemarin kan sudah dibelikan komik?” “Papa kenal Oom Hari nggak?” “Hari sudah malam, Bagus besok sekolah, kan?” “Oom Hari itu kenal Papa, nggak?” “Hari sudah malam, Bagus, tidur ya?”

Dan, begitulah. Sepertinya Mama tidak senang kalau aku bertanya-tanya soal Oom Hari dan Papa. Papa memang jarang pulang. Bisa-bisa sebulan sekali. Kalau Oom Hari orangnya hangat dan simpatik, Papa begitu pendiam. Ia jarang mengajakku bermain. Aku juga dibelikan hadiah, tapi jarang. Tidak sesering Oom Hari. Dan Oom Hari semakin sering saja ke rumah. “Oom Hari baik, deh,” kataku. “Oom Hari kan sayang Bagus,” “Oom Hari mau nggak jadi Papa Bagus?” “Wah, ya nggak mungkin dong. Kan, Bagus sudah punya?” “Tapi Papa jarang pulang,” “O, ya?” “Dan jarang membelikan Bagus mainan,” “Oom Hari temannya Mama, ya?” “Iya,” “Oom Hari sayang Bagus, kan?” “Semua sayang bagus, kok. Papa juga, Mama…” “Tapi Papa jarang pulang.” “Tidak seperti Oom,” “Oom Hari sayang Mama?”

Wajah Oom Hari berubah. Dia diam saja. Tangannya malah membelai rambutku. Mama juga sering pergi dengan Oom Hari. Entah kemana. Aku sering ditinggal sendirian dengan Mbok Yem. Kalau sudah sendirian begini pikiranku sering teringat pada dompet.

Bagaimana dengan dompet Mbok Yem? Kalau dompet Mbok Yem isinya hanya uang. Ada KTP tapi nggak ada apa-apa. Dompet Oom Hari sama seperti dompet Mama. Banyak uang dan kartu kredit. Kalau sudah melihat-lihat isi dompet aku suka mengeluarkan isinya, lalu kukembalikan lagi seperti semula.

Tapi pernah aku melihat Mama bertengkar dengan Papa. Aku menduga barangkali karena dompet, karena Mama menyebut-nyebut soal dompet. “O, jadi ini yang membuat kamu jarang pulang?” “Bukan begitu….” “Dasar lelaki jalang!” “Sayang, aku…” “Kamu, jahat!” “Sayang, aku…” “Keluar dari rumah ini!” “Kamu tahu…darimana…soal…” “Ini apa!?” Aku mengintip. Mama melotot sambil melemparkan foto ke muka Papa. Aku melihat isi dompet Papa bertebaran di lantai. “Bajingan!” “Tunggu, Ma, ini cuma salah paham…” “Salah paham apa!? Ini foto siapa, hah!?”

Dan semenjak itu Papa tidak pernah pulang lagi ke rumah. Selama-lamanya. Kala itu aku takjub. Begitu luar biasanya kekuatan sebuah dompet. Begitu isinya berhamburan dan diketahui orang bisa membuat Papa tak pulang lagi ke rumah. Luar biasa.

Dan semenjak itu aku suka sekali pada dompet. Dompet. Oh, dompet. Ada banyak kisah di dalamnya. Ada banyak cerita di dalamnya. Semenjak itu aku tertarik membuka dompet. Tapi, membuka isi dompet orang lain susah. Harus penuh perjuangan. Kalau ketahuan bisa dikira pencuri. Aku mengetahuinya ketika aku pulangs sekolah diantar pulang Mbak Nah, anaknya Mbok Yem. Ada orang dipukli beramai-ramai di jalan. “Maling!” “Pencuri!” “Rasakan!” Bbbguugg! Perut orang itu ditendang. Tangan dan wajahnya berdarah-darah. “Dompet saya!” Ada seorang wanita menjerit. “Itu dia yang mengambil dompet saya di bis!” “Hajar!” Dua orang polisi datang, melerai. “Hajar saja!” “Huh, pencuri!” “Oh, untung dompet saya selamat!” “Sudah, sudah, bawa saja ke kantor!”

Semenjak itu aku berpikir kekuatan dompet sungguh luar biasa. Seorang lelaki yang mengambilnya bisa dihajar beramai-ramai sampai wajahnya berdarah. Semenjak itu aku berpikir jangan sampai ketahuan aku melihat dompet Papa, dompet Mama, dompet Mbok Yem, dompet Mbak Nah, dan dompet Oom Hari. Nanti aku bisa seperti lelaki malang itu.

Tapi, semakin aku berpikir begitu aku semakin suka kepada dompet. Aku berpikir bagaimana kalau aku mulai mengumpulkan dompet? Bukankah isi dompet itu banyak cerita? “Untuk apa kamu punya dompet?” tanya Mama ketika ia bertanya aku mau dibelikan apa untuk hadiah ulang tahun. “Kepingin punya aja, seperti punya Mama,” jawabku. Mama tersenyum. “Kamu masih kecil, Bagus. Kalau mau menyimpan uang di kantung saja, atau di celengan,” “Aku mau punya dompet,” rengekku.

Mama tersenyum dan membelai kepalaku. Dan aku tetap tidak dibelikan dompet. Kalau pulang sekolah, aku pernah melihat di pasar banyak sekali dompet. Dompet-dompet itu ditaruh di atas koran bekas. Aku melihat-lihat isinya. Kosong semua. Aku heran. Kenapa kalau kosong ada orang dipukuli hanya gara-gara dompet? “Bagus, ayo pulang!” kata Mbak Nah. “Nggak mau, Bagus mau lihat dompet!” “Dompet apaan sih? O, yang ada gambar Teletubbiesnya ya?” “Bukan, yang seperti punya Mama!” “Lho, itu kan dompet perempuan? Sudahlah, Gus! Minta dibelikan Mama saja!” “Nggak mau! Bagus ingin dompet yang di pasar! Kayak punya Oom Hari!” “Tapi Mbak Nah nggak punya uang. Nanti saja, ya?” “Nggak mau!”

Mak Nah kebingungan. Tapi kulihat dia berbicara dengan lelaki berpeci lama sekali ngomongnya. Setelah itu Mbak Nah memberikan aku dompet. Tapi begitu sampai di rumah Mama marah-marah. “Uangnya buat beli dompet…” “Dompet apa?” “Itu… Bagus minta dibelikan dompet!” “Kan bisa kamu bujuk dia ? Goblok! Tuh, sekarang kau pulangnya terlambat, jemuran basah tida k diangkat, kerjaan rumah kacau semua!” “Uangnya nggak cukup naik bajaj…jadi lama …” Kasihan Mbak nah. Dia bicara sambil menunduk. Aku berpikir, betapa hebatnya dompet. Gara-gara Mbak Nah membelikan aku dompet Mama bisa marah-marah. Karena pulang ke rumah jadi terlambat. Apalagi tadi hujan deras. *** Saudara-saudara, demikianlah mengapa aku suka kepada dompet. Bagiku dompet adalah keajaiban. Bagiku dompet punya sejuta kisah, sejuta cerita. Sebuah dompet juga mempunyai kekuatan. Bisa membuat Mama marah-marah, bisa membuat Papaku tidak pulang lagi ke rumah, bisa membuat orang dipukuli, dan bisa mendatangkan kesulitan. Kalau yang punya hilang, orang akan mendapatkan kesulitan. Dompet bukan hanya tempat menyimpan duit. Fungsinya menyimpan cerita. Kalau isinya banyak, pasti yang punya orang kaya. Seperti Papa, seperti Mama, seperti punya Oom Hari.

Dompet juga bisa menjadi bencana. Pernah dompet Oom Hari yang berisi uang dibiarkan di dalam saku celana yang mau dicuci. Untung Oom Hari ingat. Kalau lupa bisa-bisa isinya disambar Mbak Nah. Tapi dompet bisa juga mendatangkan kebahagiaan.

Pernah kulihat di film televisi, kulihat orang pekerjaannya pencopet. Dia begitu bahagia jika dapat mengambil dompet. Dia bahkan bisa hidup dengan dompet-dompet orang lain. Uangnya dibelikan emas, dibelikan minuman dan makanan yang enak-enak. Ada juga uangnya dibelikan obat untuk istrinya yang kulihat sedang sakit keras. Bagiku ini jadi peristiwa yang heroik. Sebuah dompet bisa mendatangkan kebahagiaan tiada tara. Obat penyembuh yang mujarab! Tapi, seperti yang kulihat waktu pulang sekolah, kalau yang punya tahu dompetnya diambil, yang mengambil bakal dipukuli, dikejar beramai-ramai.

Untung orang di film itu temannya banyak. Dompet yang diambilnya dilempar ke temannya yang lain. Isinya diambil dompetnya dibuang ke tong sampah. Selesai. Sesudah itu aku tak melihat apa-apa lagi. Sebab televisinya diganti Mama acara lain. Aku merengek mau nonton dompet. Tapi Mama tak peduli. Aku marah. Mama membentak lagi. Aku diam. Ya, ya.

Dompet itu bagiku adalah benda luar biasa. Bisa membuat orang bahagia, marah, mendatangkan bencana, dan juga ajaib. Bagaimana tidak dari sebuah dompet bisa menjadi cerita yang asyik seperti yang kulihat di televisi. Dari sebuah dompet bisa menjadi cerita yang lucu, unik dan menarik.

Dan semenjak itu aku ingin sekali memiliki banyak dompet, walau sekarang punya dompet sendiri. Bagiku dompet-dompet orang lain itu lebih menarik. Dari sebuah dompet kita dapat mengetahui siapa pemiliknya. Watak pemiliknya juga bisa ketahuan dari dompetnya. Kalau cokelat kayak punya Oom Hari, pasti orangnya kaya. Duitnya banyak. Kalau kayak punya Kasno, tetangga sebelah, yang warna warni itu orangnya pasti suka ngoceh, temannya banyak dan umurnya paling-paling seperti Kasno, limabelas tahunan.

Tapi di zaman sekarang isi dompet kebanyakan kartu melulu. Uang plastik, kata orang-orang. Jadi, paling-paling isinya KTP, SIM, dan STNK saja. Uang kalau ada hanya sedikit. Tapi itu tidak penting. Bagiku dompet sudah bercerita, punya kisah!

Tapi, aku tidak seperti cerita di film yang pernah aku tonton. Yang mengambil uangnya, lantas dioper ke temannya. Aku hanya senang menyimpan dompet dan isinya yang masih lengkap sambil menebak-nebak apa yang dilakukan pemiliknya. Uangnya pernah kubelikan sesuatu, tapi aku sebenarnya lebih suka membiarkan saja duitnya tetap di dalam dompet, utuh tak tersisa.

Aku lebih suka dompetnya. Tapi, pernah aku berpikir sudahlah, jangan diapa-apakan isinya. Kalau sudah ada padaku simpan saja. Tengah malam aku membayangkan apa yang dilakukan pemiliknya.

Dompet pertama yang aku ambil punya Bu Cynthia, guru biologi yang cantik itu. Aku mengambilnya di jam istirahat. Dompetnya jatuh dari tas. Aku menyembunyikannya dan menikmati isinya di rumah. Waktu itu aku mungkin aku masih bermental pencuri sejati sehingga kubelanjakan uang di dalamnya.

Bu Cynthia masih muda. Belum kawin. Duitnya nggak banyak sih. Tapi cukup buat aku mentraktir teman-teman makan bakso di kantin sekolah. Di dompet itu ada fotonya. Cantik sekali. Aku menyimpannya di rumah. Sebelum berangkat sekolah selalu kupandangi foto itu dan menciuminya. Besok pagi, seharusnya jadwal Bu Cynthia mengajar di kelas. Tapi dia tidak masuk. Mungkin gara-gara dompetnya hilang dia tidak bisa naik ojek ke sekolah. Atau mungkin sedang mengurus KTP yang baru.

Lama juga Bu Cynthia nggak masuk. Aku jadi kangen. Tapi bagaimana caranya dia bisa datang lagi ke kelas? Aku tidak tahu. Sedangkan guru penggantinya ternayata menyebalkan. Dia begitu galak lagipula tidak cantik. Tapi karena aku sudah tergila-gila pada dompet kusikat juga dompetnya.

Dompetnya kuambil ketika tasnya tertinggal di ruang guru. Waktu itu aku dapat tugas mengambil sekotak kapur di ruang guru. Ada tas Bu Siregar, guru pengganti Bu Cynthia. Ruangan kosong. Segera kusikat dompetnya yang terletak di dalam tas.

Dompetnya lalu kuletakkan begitu saja di tas Pak Kasmin, pesuruh sekolah. Entah kenapa yang terlintas di pikiranku, aku tidak mengambil uang di dalamnya setelah puas melihat-lihat isi dompetnya. Kebetulan tasnya tergolek di dekat pos satpam. Aku taruh saja dompet Bu Siregar di dalam tas Pak Kasmin. Besoknya Pak Kasmin tidak nongol lagi. Katanya dipecat gara-gara dompetnya Bu Siregar ada di tasnya.

Aku semakin takjub. Dompet, oh, dompet. Begitu luar biasa kekuatan yang ada dalam dirimu! Selalu bisa menimbulkan konflik! Dan, aku begitu suka pada dompet. Kalau dompetnya besar pemiliknya biasanya juga bertubuh gendut. Dan kalau dompetnya berukuran sedang-sedang saja orangnya bermacam-macam, ada yang kurus ada yang tegap. Tapi bagiku dompet itu punya cerita. Bukan duitnya yang penting. Dompet, ya, dompet.

Betapa aku tergila-gilanya padamu. Sampai aku dewasa. Sebagai maniak dompet. Bukan pencuri. Pengkoleksi dompet-dompet orang-orang yang berhasil kusikat di tempat-tempat yang ramai. Isinya tak pernah kuambil. Semuanya kusimpan dengan rapi dan aku menyusunnya ke dalam lemari sesuai abjad nama pemiliknya.

Pernah dalam sebulan aku berhasil menyikat duapuluh dompet. Luar biasa. Dan semuanya itu kulakukan hanya dalam waktu sebulan. Beberapa diantaranya tidak kulakukan dengan mencopet lalu lari sekencang-kencangnya seperti pencopet yang kusaksikan di televisi. Tapi beberapa diantaranya kudapatkan dengan membongkar tas yang tertinggal atau diletakkan di sebuah ruangan yang kosong. Tasnya kubiarkan dompetnya kusikat untuk menjadi koleksiku yang kesekian.

Dompet, oh, dompet!

Bagiku semua dompet-dompet yang berhasil kuambil semua punya cerita. Semuanya tetap kutinggalkan bersama isinya utuh sementara ceritanya yang menarik kupendam dalam benakku. Pernah kusikat dompet yang setelah kubongkar isinya ternyata milik seorang pembunuh yang sedang dicari-cari polisi. Fotonya terpampang di televisi, majalah, situs internet, dan koran. Aku membayangkan andaikan polisi itu tahu dompet pembunuh itu ada padaku pasti dia berhasil ditangkap. Aku nanti dapat hadiah. Dianggap pahlawan meskipun telah menyikat sebuah dompet.

Ada juga ternyata setelah kuselidiki isi dompetnya ternyata milik seorang penyanyi, pengarang, politikus, pengacara, budayawan, pelukis, wartawan terkenal atau, pernah juga milik seorang bintang film. Hebat bukan? Aku berpikir karena penampilanku yang kurus dan tirus tak selalu mencurigakan. Apalagi aku memang pandai menyamar. Tapi pada suatu malam sungguh peristiwa naas bagiku. Baru pertama kali aku gagal menyikat dompet seseorang. Kejadiannya di dalam bis kota. Tanganku terpukul dan aku ditendang sampai aku jatuh dari bis. Dompetnya terjatuh entah kemana. Tapi aku beruntung tidak sampai pencopet malang yang akhirnya dipukuli ramai-ramai.

Aku terpelanting keluar dari bis yang sedang meluncur cepat. Yang kuingat terdengar teriakan orang-orang dalam bis beradu dengan suara pengamen yang nyaring. Sekujur tubuhku mendadak sakit sekali dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Gelap sekali. ***

Begitulah sejuta pesona yang ditawarkan dompet kepadaku. Dan malam itu mungkin hari terakhir aku gagal memiliki sebuah dompet baru yang kelak menjadi koleksiku yang keempatpuluh. Tubuhku yang sakit mungkin karena kemudian tertabrak kendaraan lain yang juga sedang meluncur cepat membawaku pergi entah kemana. Tak berapa lama kemudian tiba-tiba rasa sakitku hilang semua. Tubuhku lalu melayang ke angkasa. Di kanan kiri aku melihat bunga-bunga bermekaran, berganti-ganti bentuk. Mulai dari bunga mawar menjadi bunga anggrek. Dari bunga anggrek menjadi bunga melati. Dari bunga melati menjadi bunga teratai. Baunya harum semerbak. Harum sekali. Mereka semua berwarna-warni psychedelic.

Apakah aku sedang akan masuk surga aku tidak tahu. Semoga saja demikian. Karena mungkin kalau masuk neraka mungkin di kanan kiri saya melihat gumpalan api, bukan bunga-bunga yang berganti-ganti bermekaran seperti yang sedang saya saksikan.

Dalam perjalanan menuju alam baka aku belum menemui malaikat. Mungkin satu saatnya nanti aku ketemu malaikat yang wujudnya aku bayangkan wujudnya seperti kita-kita juga tapi bersayap. Yang kutahu tubuhku melambung melayang-layang ke atas langit-langit rumah lalu menembus awan-awan. Olala. Aku pergi dibawa angin bersama bunga-bunga yang bermekaran.*

Rawamangun, Agustus 2010
Dikutip Dari Kompas.com

0 komentar:

Post a Comment

Like Facebook